NANDUR RUKUN SUGIH SEDULUR

Hari beranjak siang. Matahari makin memancarkan sinarnya. Satu-satu remaja datang ke Kampoeng Percik Salatiga. Sebagian diantara mereka datang secara rombongan. Para remaja itu berasal dari Kota Salatiga dan sekitarnya. Sambil menunggu peserta yang lain datang, sebagian diantara mereka duduk di bangku-bangku yang tersedia diantara pohon-pohon yang rindang. Semilir angin terasa, menghalau hawa panas siang itu.

Siang hari itu, para pegiat lintas iman remaja dalam wadah Sobat Remaja menyelenggarakan kegiatan yang menghadirkan remaja dari berbagai komunitas. Sobat Remaja merupakan sebuah gerakan yang memfasilitasi perjumpaan remaja lintas iman untuk bersama-sama bermain, belajar, dan menjalin persaudaraan. Komunitas-komunitas yang hadir dan turut bergabung berasal dari Budha Dhamma Pala, Ahmadiyah, Ngudi Rahayu – Niten, GPIB Salatiga, Percik, Gereja Katolik Kristus Raja, Gereja Kristen Jawa Menara Kasih, Gereja Kristen Jawa Salatiga Timur, dan KBQT-Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Sekitar 60 remaja bergabung dalam acara yang diadakan pada Minggu, 18 Agustus 2019 di Kampoeng Percik itu.

Kesempatan mengunjungi dua tempat ibadah bersejarah di Kota Salatiga, yaitu Gereja GPIB dan Masjid Damarjati menambah pengetahuan yang mereka miliki. Mereka mendengarkan penjelasan langsung dari para pengelola tempat ibadah tersebut. Gereja GPIB didirikan pada 1823. Selain mendengar penjelasan tentang sejarah berdirinya gereja GPIB, para remaja juga bisa menyaksikan bagian-bagian gedung gereja yang masih terjaga keasliannya sebagai bangunan peninggalan Belanda itu. Sedangkan Masjid Damarjati semula merupakan sebuah mushola kecil yang didirikan pada 1826 oleh Abu Naim, kerabat Pangeran Diponegoro. Oleh Abu Naim mushola itu diserahkan kepada Kyai Damarjati – yang juga sebagai pengikut Pangeran Diponegoro – untuk dikelola. Masjid Damarjati juga dikenal sebagai masjid musafir karena sering menjadi tempat singgah diantara mereka yang sedang bepergian untuk menjalankan ibadah sholat. Sebuah kolaborasi lintas iman patut diapresiasi ketika pengelola dan jamaah Masjid Damarjati bersama-sama dengan komunitas lain tanpa melihat perbedaan keyakinan turut menyelenggarakan makan bersama seusai sholat jumat. Sebuah aktivitas kebersamaan tanpa sekat yang menginsipirasi, bukan? Hingga kini, bangunan gereja GPIB dan Masjid Damarjati tampak terawat dengan baik dan masih digunakan sebagai tempat ibadah.

Selama acara untuk mendorong peserta bermain, belajar dan membangun persaudaran maka dibuatlah kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok terdiri dari 7-8 orang remaja yang merupakan perpaduan dari komunitas-komunitas yang ada. Di dalam kelompok inilah dimungkinkan mereka saling berkenalan, saling belajar dari perbedaan-perbedaan yang mereka temukan. Dan pada akhirnya, saling belajar untuk menghargai dan menghormati perbedaan yang mereka temukan.

 

Sebagian besar peserta mengungkapkan sangat menikmati dan menemukan kegembiraan mengikuti acara itu. Meski tampak pula sebagian diantara mereka yang masih canggung karena merasa malu berkumpul dengan teman-teman yang baru dikenalnya. Di akhir acara sebuah lagu berjudul Nandur Rukun Sugih Sedulur, yang dinyanyikan oleh peserta seakan menjadi pengingat kembali tentang pentingnya membangun kebersamaan dengan semangat toleransi dan cinta damai. Menghormati segala perbedaan sebab meski berbeda tetap bersaudara. Sebagaimana diungkapkan dalam cuplikan lagu tersebut.

 

Hari ini kita bersama

Satu hati satu tujuan

Persatuan kita wujudkan

Smangat toleransi cinta damai

 

Pancasila jadi pedoman

Hidup rukun saling bergandengan

Menghormati sgala perbedaan

Walau berbeda tetap bersaudara….

 

Inilah momen merayakan kemerdekaan bersama komunitas lintas iman remaja. Selamat Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia. Waktu kebersamaan remaja lintas iman yang membuahkan kegembiraan pada acara siang itu terasa begitu singkat. Menjadi sebuah harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan dalam waktu mendatang. Semoga!  /cdw-timsobatanak/