Category Archives: ARTIKEL & MAKALAH

Dari Salatiga untuk Perdamaian Indonesia

Dari Salatiga untuk Perdamaian Indonesia

(Catatan Peringatan Hari Toleransi Internasional di Kota Salatiga tahun 2018)

Menjelang sore yang cerah, di hari Jumat 30 November 2018, kesibukan pedagang dan pembeli di Pasar Raya 2 Salatiga mulai berkurang. Sebagian besar pedagang yang sudah berdagang sejak pagi, mulai merapikan dagangan dan menutup kiosnya. Seiring dengan kesunyian di dalam pasar, kesibukan berganti di Kanopi dan halaman Pasar Raya 2. Di halaman pasar, yang terletak di jantung kota itu,  beberapa pedagang makanan dan minuman mulai mempersiapkan dagangannya. Selain itu kesibukan lain juga terjadi di area Kanopi dan halaman depannya. Sejumlah warga dan anak-anak muda dari berbagai komunitas lintas iman dan etnis, tampak sibuk memasang tenda, menata kursi dan panggung di Kanopi. Seperti berkejaran dengan waktu, mereka tidak banyak bercakap atau bersenda gurau.

Hampir bersamaan dengan kumandang azan Salat Magrib dari Masjid Al Muttaqien pekerjaan hampir beres. Sebuah spanduk besar di Kanopi dengan tulisan, “Malam Puncak Peringatan Hari Toleransi Internasional Kota Salatiga tahun 2018: Dari Salatiga untuk Perdamaian Indonesia”, terpasang dengan gagahnya. Di bagian bawahnya itu, tampak logo penyelenggara kegiatan yaitu Pemerintah Kota dan Polres Salatiga, serta Setara Institute dan Yayasan Percik Salatiga. Kehadiranya seperti menjawab banyak pertanyaan dari berbagai warga yang penasaran dengan acara ini.

Ya, malam itu, merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari toleransi internasional di Kota Salatiga.Sebagaimana diketahui sejak tahun 1996 setiap tanggal16 November diperingati sebagai Hari Toleransi Internasional. Pada hari ulang tahun ke-50 PBB, 16 November 1995, negara-negara anggota UNESCO mengadopsi sebuah Deklarasi Prinsip-Prinsip Toleransi, antara lain menegaskan bahwa toleransi merupakan cara untuk menghindari ketidakpedulian, kekerasan, diskriminasi, dan marginalisasi di banyak negara. Sikap toleransi adalah bentuk pengakuan hak asasi manusia universal dan kebebasan fundamental orang lain. Dengan adanya keberagaman manusia, toleransi bisa menjamin kelangsungan hidup komunitas di setiap wilayah dunia.

Pada hari-hari menjelang acara ini, sejumlah individu dan komunitas lintas iman di Salatiga dan sekitarnya yang didukung oleh 4 lembaga itu telah mengadakan lomba film pendek dan poster bertema toleransi. Perlombaan itu bertujuan untuk memfasilitasi ekspresi dan kreasi warga dalam memaknai dan memperjuangkan toleransi di Kota Salatiga. Malam itu hasil penjuriannya akan dibacakan dan diberikah penghargaan bagi para pemenang perlombaan. Acara Malam Puncak Peringatan Hari Toleransi Internasional di Kota Salatiga tahun 2018 itu merupakan kali pertama di Kota ini yang melibatkan partisipasi banyak pihak, baik dari unsur instansi negara maupun masyarakat sipil.

Sekitar jam 7 malam, sebagian tamu undangan dan kelompok seni budaya pengisi acara telah datang ke area acara. JQH Al Furqon, group rebana dari Mahasiswa IAIN Salatiga, mengawali acara dengan menyanyikan lagu-lagu keagamaan bersyair Arab, dibuka dengan Shalawat Nabi Muhammad SAW dan diakhiri dengan lagu Deen Assalam. Lagu Deen Assalam ini, pertama kali dinyanyikan Sulaiman Al Mughni dan di Indonesia dipopulerkan oleh penyanyi Sabyan Gambus. Menilik liriknya, lagu iniingin menunjukkan Islam adalah agama pembawa perdamaian, dengan mengajak kepada semua umat Islam untuk bertoleransi dan saling menghormati.

Lagu ini dikumandangkan untuk menyongsong kehadiran para tamu yang sebelumnya transit di Rumah Dinas Walikota Salatiga. Mereka adalahForkompinda, dan pimpinan legislatif,Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), Perguruan Tinggi, Organisasi  Sosial Keagamaan, Organisasi Masyarakat Sipil, FKUB, Komunitas Lintas Iman, Bisnis,Seni-Budaya, serta tokoh masyarakat di Salatiga. Usai lagu ini kelar, diteruskan acara sesi pembukaan. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan-sambutan dari Ketua Panitia (Singgih Nugroho), Direktur Riset Setara Institute (Halili), Kapolres (AKBP Yimmy Kurniawan), dan Walikota Salatiga (Agung Nugroho, Kepala Badan Kesbangpol). Pada bagian akhir sesi pembukaan, dilakukan doa bersama oleh tokoh lintas agama.

Lantas, acara dilanjutkan dengan pagelaran seni budaya, yang diramaikan oleh kelompok tarian etnik dari Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FFBI Salatiga), dan Musikalisasi Puisi dari Kelompok Belajar Qoryah Toyyibah dan Teater Getar IAIN Salatiga. Puncak acara yang ditunggu adalah pengumuman pemenang lomba film pendek dan poster bertema toleransi. Berdasarkan keputusan dewan juri, yang dibacakan pembawa acara (Ahmad Alex Mufid dan Ambar Istiyani), film berjudul, “Perpective”,besutan kelompok R Visual Productionsebagai Juara I. Selanjutnya, film berjudul,“Weton Sindu”, karya Wik wik Production, dan film berjudul, “Tepo Seliro” (Arunika Production) sebagai juara II dan III.Sedangkan juara Harapan I adalah film berjudul, “Satu dalam Perbedaan”, karya C&N Production, dan “3 Sudut”, karya Pecandu Karya Production sebagai Juara Harapan II. Sementara itu, pemenang pertama lomba poster diraih oleh Sofyan Baihaqi, disusul oleh Ahmad Makdum dan Bram Kusuma. Para pemenang itu mendapat penghargaan Tropy dari Walikota dan Kapolres Salatiga beserta uang pembinaan dan piagam.

 

Salatiga sebagai Sumbu Perdamaian Indonesia

Serangkaian acara malam puncak itu antara lain ingin menjelaskan tentang latarbelakang, tujuan, sekaligus apresiasi, dan harapan dari kegiatan ini. Penyelenggaraan acara ini didorong atas dasar keinginan untuk ikut merawat kemajemukan (pluralitas) di kehidupansosial masyarakat di Indonesia termasuk Kota Salatiga. Sebab, keragaman itu telah menjadi modal sosial penting bagi pembentukan bangsa (nation building)baik secara politik maupun geografis,sehingga para pendiri bangsa ini dengan sadar memilih Pancasila sebagai dasar negara.

Di Kota Salatiga, keragaman agama dan etnis warganya menjadikan kota yang menurut data BPS (2016) dihuni oleh 186.420 jiwa kerap disebut sebagai salah satu miniatur Indonesia mini yang menjadi rumah yang nyaman bagi sekitar 32 suku. Praktek toleransi telah berjalan baik selama kurun panjang dan diakui oleh banyak pihak. Pada tahun 2015 dan 2017 misalnya, Setara Institute Jakarta memasukkan Kota Salatiga sebagai Kota Toleran di Indonesia. Dan di tahun 2018ini, Kota Salatiga kembali mendapat penghargaan dari Setara Institute.

Sebagai informasi, Setara Institute Jakarta melakukan penelitian Indeks Kota Toleran terhadap terhadap 94 dari 98 kota di Indonesia. Tujuan pengindeksan ini antara lain untuk mempromosikan kota-kota yang dianggap berhasil membangun dan mengembangkan toleransi di wilayahnya. Hal ini diharapkan memicu kota-kota lainnya untuk mengikuti, membangun, dan mengembangkan toleransi di wilayahnya.

Kota Toleran dalam studi indexingini, dijelaskan sebagai kota yang memiliki beberapa atribut yaitu, pertama, Pemerintah kota tersebut memiliki regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, baik dalam bentuk perencanaan maupun pelaksanaan. Kedua, pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota tersebut kondusif bagi praktik dan promosi toleransi. Selanjutnya, di kota tersebut, tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan rendah atau tidak ada sama sekali. Serta kota itumenunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas keagamaan warganya.

Penilaiannya antara lain menggunakan empat variabel, seperti regulasi pemerintah atau rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dan peraturan daerah. Variabel juga meliputi tindakan pemerintah sebagai respons peristiwa, regulasi sosial, dan demografi agama. Tidak kalah penting adalah tentang adanya kerjasama yang baik diantara pemerintah daerah dan masyarakat sipil dalam promosi toleransi.Dari dua kali hasil indexing itu Kota Salatiga selalu memiliki skor toleransi tertinggi bersama dengan Kota Manado, Pematangsiantar, Salatiga, Singkawang dan Kota Tual. Di tahun 2018 ini Salatiga menempati peringkat kedua dengan skor6.477. sedangkan peringkat pertama diraih Kota. Singkawang (6.513).

Adanya pengakuan ini memberi kebanggaan sekaligus tantangan bagi seluruh elemen di kota ini (Pemkot, institusi hukum dan keamanan, serta masyarakat sipil) untuk merawatnya agar lebih baik. Warga Salatiga (dan sekitarnya) harus mempelajari, mengamati dan memantau bahkan ketika Salatiga dalam keadaan damai agar kita bisa mengetahui, faktor-faktor yang bisa menjaga situasi damai tetap terpelihara. Jika potensi kekerasan mulai terdeteksi, kita bisa segera mengambil tindakan pencegahan sejak dini. Sehingga perlu peningkatan kerjasama diantara aparat negara dan masyarakat sipil dalam upayapencegahan terjadinya konflik bernuansa SARA di Kota Salatiga sekaligus meneguhkan tekad untuk menjadikan “Salatiga sebagai Sumbu Perdamaian Indonesia”.

 

(Ditulis oleh Singgih Nugroho).

Mencari Ruh di Citarum yang Keruh (Menuju Citarum Harum)

Oleh: Haryani Saptaningtyas

Pencemaran Sungai Citarum lebih diakibatkan karena perilaku manusia.  Mengakui bahwa sungai memiliki hak, melebihi fungsi dan kegunaannya dan bahwa sungai memiliki karakter spiritual, physical dan metaphysical yang melekat, dapat mempengaruhi perilaku hubungan manusia terhadap sungai.

 

Pendahuluan

Pertama kali melihat langsung sungai Citarum tahun 2013, saya hanya bisa tertegun. Tak kuasa membayangkan air sungai yang dipenuhi tumpukan sampah adalah sumber air bersih bagi warga Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung. Paparan tentang dampak kesehatan akibat Bakteri E-coli karena banyaknya kotoran manusia yang mencemari sungai, menjadikan gambaran tentang sungai ini begitu mengerikan. Ancaman kesehatan pun menjadi nyata. Kebutuhan akan hidup, tampaknya membuat masyarakat di sekitar masih bergantung pada sungai ini.

Sejak tahun itu, saya mulai intensif mengumpulkan informasi baik primer maupun sekunder terkait sungai ini dan agama. Tidak hanya karena saya bagian dari peneliti di proyek Citarum, tetapi paparan ahli dari Indonesia dan Belanda yang tergabung dalam the Alliance Project Water, Health and Development telah menyentuh keimanan saya. Sebagai seorang Muslim saya malu. Bagaimana saya menjelaskan fakta bahwa mayoritas penduduk di sekitar Citarum adalah muslim dan pertanggung jawaban keimanan melihat sungai yang kotor.

Dalam agama kami, Islam mengajarkan untuk mencintai kebersihan dan menjadikan kebersihan sebagian dari iman, tetapi nyatanya kami gagal merawat sungai. Padahal banyak hadist mengajarkan bagaimana nabi dan umatnya harus merawat sungai dan sumber air. Contohnya hadist larangan membuang kotoran di aliran sungai. Kritik keimanan inilah yang kemudian mengantarkan saya menulis disertasi terkait persepsi tentang pencemaran dan purifikasi dan perilaku masyarakat. Celah ini menjadi refleksi internal bahwa jika tidak ada yang salah dalam ajaran keagamaan, mengapa banyak kerusakan di Bumi. Lalu bagaimana pertanggung jawaban sosial seorang muslim sebagai khalifah di muka bumi. Idealnya agama bisa dijadikan sumber etik berperilaku dalam hubungan manusia dan alam.

Mengkaitkan agama dan pencemaran sungai menjadi sangat relevan karena secara umum di Indonesia, agama masih dijadikan rujukan sumber nilai dan etika. Menurut survei WIN/Gallup (2016) menyebut bahwa orang Indonesia umumnya mengklaim dirinya sebagai seorang yang agamis (58% responden) dan 30% mengaku tidak sebagai orang yang agamis. Agamis dalam survei ini didefinisikan sebagai seringnya pergi ke tempat ibadah dan percaya kepada Tuhan dan hari akhir[1]. Alasan ini pula yang mendorong Gubernur Jawa Barat, memakai hukum Islam untuk menghentikan dan melarang orang membuang sampah di sungai. Tindakan mengharamkan perilaku buruk ini diharapkan efektif menghentikan pencemaran sungai[2].

Menggunakan metode analisis wacana kritis, salah satu temuan dalam penelitian saya adalah bahwa wacana pencemaran (pollution) dan pensucian (purification) terkait erat dengan praktik hidup sehari-hari. Temuan inilah yang akan dipaparkan dalam artikel ini sebagai bentuk self-critic dan upaya memproduksi wacana baru bahwa sungai Citarum memiliki karakter spiritual yang perlu diakui.

Selanjutnya melalui tulisan ini juga dipaparkan pentingnya pemerintah dan masyarakat untuk mengakui hak yang melekat pada sungai Citarum. Dengan pengakuan hak ini, hubungan antara manusia dan sungai dapat diubah. Sungai tak lagi dilihat dalam konteks fungsi dan kemanfaatannya, tetapi dilihat sebagai entitas hidup yang perlu dihormati oleh manusia.

 

Membaca Data dan Mulai self kritik

Secara metodologis, penelitian ini dilakukan di dua desa yang berada di DAS Citarum[3]. Satu desa yang dipilih berkarakter tradisional yang berada di tepian sungai Citarum dan secara langsung terkena proyek pelurusan atau normalisasi sungai. Lokasi kedua adalah sebuah kampung perkotaan di tepian anak sungai Citarum. Di dua desa tersebut terdapat makam leluhur dan penduduknya meyakini bahwa dulunya sungai Citarum dikeramatkan. Saat ini oleh pemerintah daerah, desa ini dijadikan desa wisata ziarah di mana makam dan air sumur menjadi dua simbol hubungan tanah dan air. Setiap minggu ratusan peziarah mencari berkah dan mengambil air sumur untuk menghilangkan kesialan dan persoalan hidup.  Sementara di sebuah kampung, dampak urbanisasi telah mendorong penduduk yang dulunya petani dan terikat dengan sungai, harus berubah mata pencaharian menjadi buruh dan menjauh dari sungai yang telah tercemar. Tetapi tidak bagi penduduk miskin. Mereka terpaksa kembali ke sungai mencari plastik dan karung bekas untuk dicuci di pinggiran sungai yang telah tercemar. Sungai yang tercemar tampaknya menjadi harapan terakhir bagi penduduk miskin perkotaan. Melalui comparative study ini, kita mengetahui bahwa atas nama pembangunan, hubungan sungai dan manusia telah berubah.

Sementara itu, perspektif masyarakat terhadap pencemaran sungai bersifat acuh tak acuh. Kebanyakan penduduk di dua wilayah menganggap pencemaran sebagai sesuatu yang ‘normal’ yang diartikan sesuatu yang sudah biasa terjadi, dilihat, dialami oleh penduduk. Bahkan bagi generasi muda, pencemaran sungai menjadi sesuatu yang ‘normal ‘ karena telah terjadi sejak mereka dilahirkan. Bau, kotor dan berubah warna adalah bagian dari hidup. Demikianlah pencemaran sungai ini didefinisikan berdasarkan pengalaman masa lalu dan masa kini.

Sungai yang tercemar juga dianggap ‘normal’ yang berarti terjadi sebagai akibat dari pembangunan dan industrialisasi. Hal ini terjadi akibat kuatnya hegemoni materialism dan lemahnya posisi masyarakat. Di wilayah urban, kita bisa melihat bagaimana masyarakat yang semula memiliki hak atas tanah dan terikat kuat dengan sungai, terpaksa menjual tanah karena tergiur uang. Profesi petani secara berangur angsur berubah menjadi buruh dan pengumpul limbah pabrik dan plastik. Lingkungan yang semula hijau berubah menjadi ladang sampah. Dengan demikian pencemaran dianggap sebagai sesuatu yang tak terelakkan.

Sementara saat ini, sungai yang telah tercemar hanya dijadikan tempat pembuangan sampah dan limbah baik industri dan rumah tangga. Data  terkait sumber pencemar yang dimuat dalam dokumen the Executive summary, water and sanitation Program, technical paper in titled Downstream Impacts of Water Pollution in the Upper Citarum River, West Java, Indonesia. Economic Assessment of Interventions to Improve Water Quality (2013; iv) [4]menyebut bahwa pencemar terbesar adalah limbah rumah tangga (64%) yang diidentifikasi melalui BOD, sementara limbah industri dan pertanian sebanyak 36%.

Sayangnya apa yang sering kita baca melalui media masa terkait penyebab pencemaran Sungai Citarum adalah industri. Karena terlalu fokus pada industri sebagai sumber masalah, masyarakat seolah tidak menyadari bahwa perilaku sendiri yang secara signifikan memperparah kondisi pencemaran sungai. Tentu saja, ini menjadi hambatan utama bagi upaya mengatasi pencemaran sungai. Masyarakat secara umum tidak menyadari bahwa perilakunya telah merusak sungai dan menjadi persoalan besar dan terberat dari upaya program Citarum Harum yang digagas Presiden. Persoalan ini juga diakibatkan karena kuatnya cara pandang antroposentris. Sungai hanya dilihat dalam konteks kegunaan untuk mendukung hajat hidup manusia. Sebagai akibatnya terjadi kerusakan alam dan sungai yang hebat. Ketika sungai sebagai sumber air telah rusak, maka dicarilah alternatif sumber sungai yang lain, yakni menggali sumur permukaan dan sumur artesis (bor). Meskipun, menggali sumur dianggap sebagai melanggar mitos.

 

Karakter spiritual Sungai Citarum

Melalui penelitian ini diketahui bahwa dalam sejarahnya, sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Tatar Sunda, pernah disebut sebagai ‘Bangawan’. Menurut kamus bahasa Sunda – Belanda, ‘Bangawan’ berarti Groot river atau sungai  yang besar dan diagungkan. Menurut   Coolsma,(1884,29), Bangawan[5] berarti ‘Agoeng’ yang dalam bahasa lokal dihubungkan dengan supernatural. Akan tetapi saat ini kata ‘Bangawan’ ini tidak lagi digunakan dan bahkan tidak banyak dikenali. Bahkan beberapa informan dalam penelitian ini hanya menyebutnya sebagai ‘Citarum’ atau ‘walungan’ (sungai yang agak besar). Uniknya beberapa informan di wilayah perkotaan, menunjuk sungai sebagai ‘solokan’ (anak sungai) yang kadang dikatakan sebagai ‘selokan’ yang lebih menunjuk pada fungsi sungai sebagai saluran pembuangan. Perubahan penyebutan kata ini sebenarnya menggambarkan bagaimana interaksi kita terhadap sungai telah berubah sepanjang sejarah.

Dulu sungai Citarum pernah dihubungkan dengan kekuatan supernatural sehingga disebut sebagai Bangawan. Penyebutan ini terkonfirmasi dengan cerita beberapa informan yang dulu menganggap air sungai citarum memiliki fungsi karomah (sacred water). Akan tetapi saat ini fungsi karomah dari sungai hanya terjadi dibeberapa titik sungai yang dianggap masih bersih. Umumnya di daerah hulu dan bermata air, seperti di Ciwidey, ritual mandi (purifikasi) berdasar tradisi Sunda Islam masih dilakukan. Selain di sumber mata air yang relatif masih bersih, tradisi ritual mandi ini juga biasanya dilakukan di daerah dimana makam keramat para karuhun berada. Tujuan dari ritual mandi ini dihubungkan dengan keberkahan dan upaya mencari ketenangan dan penyelesaian dari persoalan hidup, seperti sakit dan kemiskinan atau hutang.

Selain ritual mandi, mitos yang terkait dengan sungai juga masih didengar. Sebagian informan mengakui bahwa roh penunggu di sungai Citarum akan menolong semua anak keturunan dan tidak akan menganggu. Itu sebab ketika banjir besar terjadi, penduduk asli tidak pernah merasa takut dan kebanyakan memilih tidak mengungsi. Dengan demikian, masih ada jejak spiritualisme di sepanjang sungai Citarum yang seharusnya dihormati.

 

Pentingnya pengakuan hak atas sungai

Saat ini perhatian pemerintah terhadap upaya normalisasi sungai Citarum sangat besar. Mimpi presiden bahwa dalam kurun waktu tujuh tahun Citarum dapat kembali bersih menjadi puncak perhatian pemerintah Indonesia terhadap sungai ini. Sungai Citarum tidak lagi dianggap milik dan persoalan masyarakat sunda, tetapi dicitrakan sebagai wajah keseriusan visi ‘bersih’ pemerintah Indonesia. Tentu ini membanggakan.

Akan tetapi harus kembali diingat bahwa persoalan mendasar dari pencemaran sungai adalah masalah perilaku, kebiasaan masyarakat berikut cara pandangnya. Dengan demikian perlu dekonstruksi pemikiran dari cara pandang kita terhadap sungai. Sungai yang semula dianggap sebagai penunjang hidup manusian, harus dilihat sebagai entitas yang memiliki hak, terutama karakter spiritual seperti yang telah dijelaskan diatas. Melalui cara pandang ini, diharapkan masyarakat tak lagi melihat pencemaran sebagai sesuatu yang ‘normal’.

Gerakan yang mengakui bahwa sungai memiliki hak, diawali dari sungai Gangga di India dan sungai Whanganui di Selandia Baru. Dengan memberikan status hukum yang sama antara sungai dengan manusia diharapkan akan mengubah cara berpikir manusia bahwa hubungan manusia dan alam melebihi sifat materialism, sehingga hubungan yang tercipta akan lebih bersifat etik. Selandia Baru dan India telah mengakui hak hak yang melekat pada sungai, yang tak sekedar terjebak pada fungsi penggunaan. Sungai diakui memiliki sifat spiritual, fisikal dan metaphisik. Hubungan yang bersifat etik ini mulai berkurang sejak era industrialisasi dan justru melekat kuat didasarkan pada pengalaman masyarakat lokal[6].

 

Penutup

Mengakui bahwa sungai Citarum memiliki hak yang berkarakter spiritual, diharapkan perilaku masyarakat akan berubah. Selanjutnya misi menjaga ‘Ruh Citarum’ diharapkan bisa menghidupkan kembali nadi sungai Citarum yang pernah dikeramatkan dan dibanggakan oleh masyarakat Sunda.

 

[1] Definisi agamis didalam survey ini terkait dengan seringnya seseorang pergi ketempat ibadah untuk beribadah dan mengaku percaya kepada Tuhan dan kehidupan akhirat  (http://gallup.com.pk/wp-content/uploads/2017/04/Global-Report-on-Religion-2.pdf)

[2]http://citarum.org/info-citarum/berita-artikel/515-pesantren-lingkungan-di-citarum.html(visited 11 June 2017)

[3]Berdasar peta DAS sungai RCMU –Bapenas tahun 2013(134),kedua lokasi bagian dari Sub Das Citarum Hulu Segmen I. Sumber http://citarum.org/citarum-knowledge/pusat-database/data-spasial/basemap/210-peta-segmentasi-sungai-citarum/file.html(visited 18 September 2017)

[4]According to Executive summary, water and sanitation Program, technical paper in titled Downstream Impacts of Water Pollution in the Upper Citarum River, West Java, Indonesia. Economic Assessment of Interventions to Improve Water Quality (2013; iv) shows data analysis of the sources of water pollution indicates that 64% of biological oxygen demand in the Citarum River is produced by domestic and municipal activities, compared with 36% from industrial or agricultural activities combined. The significant number of people lacking access to improved sanitation in the upper Citarum River basin explains the relatively high contribution of domestic and municipal activities: 60% in rural areas and 35% in urban areas.

[5]Bangawan means great river (sungai yang Agung) or groote rivier, die in de zee uitloopt; Enil de Nijl- also means Agoeng, een groote stroom (Coolsma, 1884. 29). Other words are waloengan voll. tji-waloengan, rivier, stroom, tji of tjai – rivierwater. Vgl. wahangan, soesoekan en solokan (Coolsma; 1884,416) . This research finds that the word ‘bangawan’ is no longer used, even the current generation of Sundanese do not recognized the word ’Bangawan’ to indicate the great river of Citarum.

[6]https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2017/apr/21/rivers-legal-human-rights-ganges-whanganui?CMP=share_btn_fb

 

*) Haryani Saptaningtyas (Alumni FP UNS angkatan 1994 – Staff Peneliti Percik – Salatiga)

 

Diambil dari:

https://ikatani.id/duniausaha-12-Mencari.Ruh.di.Citarum.yang.Keruh.(Menuju.Citarum.Harum).html

Muslim and Christian visitors teach other, and a Wodonga congregation

An interfaith program at St Stephen’s Uniting Church in Wodonga is hoped to promote understanding and respect of different beliefs in both Australia and its closest neighbour.

In 2008 a group of church members visited Indonesian NGO The Percik Institute for social research, democracy and justice, and since then the two organisations have taken turns hosting guests.

Surga Kecil di Kampoeng Percik

Oleh: Maria Hartiningsih

Bulan seiris timbul-tenggelam di antara pohon-pohon sengon yang menjulang. Awan berarak di antara dedaunan. Hujan baru saja jatuh. Sisa tetesannya di rumput terlihat gemerlapan dalam keremangan.

Suasana malam di Kampoeng Percik, di Dukuh Turusan, Salatiga, itu menghalau lelah seharian. Tak ada tempat bagi keributan di pikiran, ketika seluruh labirin rasa dipenuhi keheningan. Suara daun jatuh pun terasa seperti getaran nada yang melayang di udara, dan saya ingin menangkapnya. Ting..!