Category Archives: Berita

Belajar Bersama tentang Kesehatan Reproduksi Remaja

“Senang karena tambah pengetahuan. Jadi lebih tahu tentang organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Menjadi tahu bagaimana cara menjaga kesehatan organ reproduksi.” Berbagai pendapat tersebut disampaikan sebagian besar anak-anak peserta forum belajar bersama. Pada kesempatan yang sama perwakilan orang tua menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi orang tua. Sebab, kegiatan ini membekali pengetahuan bagi orang tua dalam mendampingi putra-putri mereka yang telah memasuki masa pubertas.

Sabtu, 8 Desember 2018 bertempat di Kampoeng Percik Salatiga, Sobat Anak Salatiga bekerjasama dengan SD Marsudirini 77 Salatiga menyelenggarakan forum belajar bersama dengan tema “Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja.” Kegiatan ini bertujuan membekali anak-anak yang telah memasuki masa pubertas untuk mengenali dan menjaga kesehatan organ reproduksi. Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa-siswi kelas VI SD. Mereka sebagian besar telah memasuki masa pubertas dan telah mengalami perubahan fisik dalam tubuhnya. Pada kesempatan yang sama di ruang terpisah juga diselenggarakan forum belajar bersama bagi orang tua siswa. Harapannya adalah orang tua dan anak memiliki pemahaman yang sama tentang perkembangan seksualitas dan reproduksi sesuai usia perkembangan anak. Penting bagi orang tua memberikan perhatian dan pendampingan pada tahap perkembangan anak yang telah memasuki masa pubertas.  Agar anak tidak bingung, malu, dan takut ketika memasuki masa pubertas. Selain itu diharapkan terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak untuk memperbincangkan persoalan-persoalan reproduksi dan pubertas.

Materi-materi yang disampaikan kepada peserta berkaitan dengan beberapa hal. Antara lain organ-organ reproduksi apa saja yang dimiliki perempuan dan laki-laki. Ketika memasuki masa pubertas, perubahan-perubahan fisik apa saja yang dialami oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Apa saja yang harus diperhatikan pada masa ini. Bagaimana menjaga kesehatan organ reproduksi. Lebih lanjut forum belajar ini juga membekali pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh mana yang merupakan area privat, yang seharusnya tidak boleh dilihat atau disentuh oleh sembarang orang. Sebaiknya sejak dini anak memiliki pengetahuan tentang hal ini dan bagaimana cara-cara melindungi tubuh mereka. Penyampaian materi melalui sejumlah games yang diberikan narasumber tampak sangat disukai anak-anak. Cara ini juga menjadikan anak-anak lebih mudah menangkap materi yang disampaikan.

Forum belajar bersama ini menghadirkan dua narasumber dari pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yaitu Dr. Wahyuni K., M.Si., Psi. untuk kelas orang tua dan Margaretta Erna S., MA., Psi. untuk kelas anak-anak. Selain memperoleh materi tentang organ reproduksi, forum belajar bersama ini juga memungkinkan peserta untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

[ditulis oleh : Cicilia Dwi Wuryaningsih]

Live In Lintas Iman, Ajak Peserta Kunjungi Dusun Harmonis

Jumat (23/11) pukul 13.00 WIB satu persatu peserta live in(tinggal) bersama yang diadakan oleh forum lintas iman Sobat Muda mulai datang di Kampoeng Percik, Salatiga. Mereka adalah 40 muda-mudi dari beragam kepercayaan, yakni Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu, dan Buddha. Setelah melakukan registrasi, peserta diajak masuk ke mobiluntuk persiapan pemberangkatan.

Selain berangkat bersama rekan-rekan panitia dari Kampoeng Percik, ada juga beberapa pesertayangdatang langsung ke lokasi live indi Dusun Niten, Desa Kenteng, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Dusun Niten ini disebut ‘Dusun Harmonis’ oleh panitia, karena antara lain masyarakatnya hidup berdampingan dengan harmonis dalam tiga kepercayaanyaitu Islam, Kristen, dan Buddha. Tempat-tempat ibadah, masjid, musholla, gereja, dan vihara ada di dusun ini sebagai tempat masyarakat bersembahyang dan bersosialisasi. Peserta tinggal di dusun ini selama tiga hari (23-25 November 2018) dengan harapan agar mereka bisa belajar langsung tentang toleransi dan perdamaian dari kehidupan sehari-hari dan kearifan masyarakat lokal Dusun Niten.

Sesampainya di lokasi, semua peserta berkumpul di rumah Kepala Dusun, Suwanto.Beliau menyambut peserta satu persatu kemudian menyampaikan kata sambutannya. Menurutnya, peserta akan tinggal di 10 rumah warga yang selama kegiatan ini akan menjadi ‘induk semang’ atau orang tua asuh para peserta. Setiap rumah akan dihuni oleh 4 orang peserta yang terdiri dari bermacam-macam agama sehingga mereka bisa saling mengenal dan belajar bersama.

Setelah jam shalat Ashar masing-masing peserta diminta untuk memperkenalkan diri danharus mengingat nama-nama peserta lain sesuai urutan dalam formasi lingkaran. Perkenalan dilanjutkan dengansarasehan dimana tiap individu berbagi dan menceritakan pengalaman pahit manis dalam berinteraksi dengan umat berbeda keyakinan.

Seorang peserta Buddhis menceritakan pengalaman pahit dan manisnya-nya, “Dulu saya itu sering saling ejek dengan teman sayakarena dia mulai duluan. Saya Buddha dia sering memanggil ‘Bud bud’. Kawan saya Muslim kemudian saya ganti panggil balik ‘Mus Mus’. Tapi saya juga mempunyai pengalaman menyenangkan ketika di tempat tinggal saya bisa hidup bekerjasama meskipun berbedabeda agamanya.”

Ada juga peserta Kristen yang berbagi, “Di tempat kerja pernah ada kejadian. Saat itu saya sedang makan babi kuah, kemudian seorang teman saya yang Muslim tanya ‘kamu makan apa?’. Saya jawab jujur ini daging babi. Lalu sikap dia kepada saya agak berubah. Dan semenjak itu memandang saya yang seakan saya menjadi haram. Sementara itu, pengalaman menyenangkan saya antara lain waktu kecil saya tinggal di lingkungan Muslim. Dan ketika sore, biasanya teman-teman mengajak belajar di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Saya juga mendapat permen dari guru ngajinya.”

Dalam refleksi bersama sarasehan berbagi itu, seorang peserta menyimpulkan bahwa sebenarnya bukan agama yang tidak baik, tetapi tergantung manusianya yang bersikap, apakah dia menjalankan agamanya dengan baik atau tidak.

Peningkatan Wawasan Multikultural

Awal malam itu setelah rehat sejenak di rumah induk semang, peserta mengikuti sarasehan peningkatan wawasan multikultur melalui belajar bersama interaktif antar iman. Hadir sebagai narasumber adalahGus Muhammad Hanief, M.Hum pimpinan Pondok Pesantren Edi MancoroGedangan dan Dr. Hasto Bramantyo, dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra. Gus Hanief menjelaskan tentang sejarah gerakan lintas iman Sobat, yang diprakarsai oleh Pesantren Edi Mancoro, Sinode GKJ, dan Percik Salatiga; yang merupakan cikal bakal dari gerakan lintas iman Sobat Muda.

Dalam tauziyah-nya, Gus Hanief antara lain menyampaikan bahwa manusia diciptakan berbeda untuk saling mengenal, saling menghiasi dunia. Meskipun berbeda harus menghargai satu sama lain. Menurutnya, tantangan membangun kerukunan adalah belajar saling mengerti dan memahami. Pemuda lintas iman diharapkan menjaga moralitas bangsa dengan menjaga kerukunan. Dia menegaskan bahwa memiliki tujuan sama tidak perlu harus sama atau tidak boleh berbeda. Selalu ada perbedaan, bahkan dalam persamaan. Kita akan kaya dalam pengetahuan tanpa harus sama, kita bisa belajar dari yang berbeda.

Sementara itu, Dr. Hasto Bramantyo menyampaikan bahwa manusia yang termulia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Sehingga meskipun manusia berbeda, saling berusaha melakukan yang terbaik. Semua agama mengajarkan tentang kasih dan mengasihi manusia. Selain itu penting untuk belajarberlapang dada menerima dan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Sarasehan malam itu tidak hanya diikuti oleh para peserta live in, tetapi perangkat dusun, tokoh agama setempat, dan pemuda karang taruna yang turut hadir. Mereka bahkan ikut serta dalam diskusi dan tanya jawab. Setelah sarasehan selesai, masyarakat juga meluangkan waktu untuk nonton bareng (nobar) film Invictus, sebuah film berlatar Afrika Selatan yang mengangkat isu rekonsiliasi antar ras di negara itu.

Dialog Lintas Iman, Kunjungi Tiga Tempat Ibadah

Berbeda dengan kegiatan hari sebelumnya dimana peserta difokuskan pada sarasehan, kali ini mereka akan diajak mengunjungi tiga tempat ibadah. Kunjungan pertama dilakukan ke masjid, peserta akan belajar bersama tentang Islam. Pada sesi tanya jawab peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan melakukan dialog.

Ketika jam sholat dzuhur tiba bagi peserta yang beragama muslim mempersiapkan diri untuk mengikuti sholat berjamaah. Setelah istirahat dan foto bersama peserta dipersilakan pulang ke Rumah induk semang untuk beraktivitas kembali membantu dan belajar bersama orang tua asuh. Tidak lupa panitia juga berpesan agar menyiapkan alat-alat kebersihan seperti sapu, lap pel, kemoceng,dan lain-lain karena di sore hari nanti akan ada kerja bakti di tempat-tempat ibadah.

Malam hari kunjungan dilakukan di Vihara Karuna Pala dimana semua peserta akan belajar bersama tentang Buddhisme. Sebelum dilakukan dialog Puja Bhakti (peribadatan) bagi umat Buddha dilaksanakan, maka peserta menunggu di teras dan halaman viharasampai peribadatan selesai. Usai peribadatan, peserta live in dipersilakan masuk kedalam dan saling berkenalan. Kemudian dilanjutkan dialog peserta diberi kesempatan bertanya tentang Buddhisme, acara dipandu oleh Kustiani selaku moderator dan pertanyaan banyak dijawab oleh Prihatiningsih. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ‘mengapa patung Buddha bentuknya berbeda-beda?, bagaimana konsep kehidupan setelah kematian menurut Buddhisme?’ dilontarkan oleh para peserta.

Sebelum dialog malam ditutup, Kustiani turut menambahkan beberapa penjelasan terkait Budhisme. Ia juga menyampaikan bagi kawan-kawan yang ingin melihat prosesi pernikahan Buddhis bisahadir menyaksikan langsung. Minggu (25/11) ada pasangan yang akan melangsungkan pernikahan jika ingin melihat bisa datang pukul 07.00 WIB. Momen ini bisa disaksikan langsung sebagai pengalaman bagi kawan-kawan live in lintas iman. Prosesi akan berlangsung di vihara yang berbeda di dusun itu, namun masih dalam satu desa.

Pembelajaran terakhir berlangsung pada hari Minggu, peserta akan belajar bersama tentang Kekristenan. Hampir sama ketika melakukan kunjungan ke vihara peserta mengamati peribadatan umat kristiani, mulai dari berdoa, menyanyikan lagu rohani, dan khotbah. Peribadatan tidak dilakukan gereja karena sedang dalam proses pembangunan, namun ibadah tetap dilakukan di kediaman salah satu jemaat. Kegiatan dialog ditutup oleh Yohanes Gilimanto mewakili rekan-rekan panitia dan peserta lalu dilanjutkan dengan foto bersama sekaligus berpamitan.

Tiga hari lamanya teman-teman live in lintas iman berkumpul, berbagi, dan belajar bersama baik bertukar cerita antara satu dengan yang lain maupun masyarakat sekitar. Sebelum berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing peserta berkumpul kembali di kediaman Suwanto, ada beberapa hal yang dilakukan salah satunya refleksi bersama. Perwakilan dari tiap kelompok diminta untuk menyampaikan pesan kesan selama mengikuti live in. Setelah itu ditutup oleh sambutan dari Suwanto selaku kepala dusun dan perwakilan dari Percik diwakili oleh Singgih Nugroho.

Tidak lupa orang tua asuh dari rumah induk semang juga dihadirkan dalam penutupan kegiatan live in lintas iman. Semua berpamitan dan ada penyerahan kenang-kenangan untuk orang tua asuh dan kadus. Setelah itu semua pihak dikumpulkan untuk foto bersama sambil meneriakkan ‘Sobat Muda Nusantara! Beda Itu Indah’. (Endang Dwijayanti)

Mengembangkan Kurikulum Pendidikan Perdamaian untuk Pemuda

Di sebuah rumah joglo di Kampoeng Percik Salatiga, senyum menghiasi wajah para peserta. Workshop telah selesai mereka lakukan selama dua hari, pada tanggal 6 dan 13 Oktober 2018. Namun, pada hari kedua purna kegiatan itu sebagian dari mereka masih tampak enggan meninggalkan lokasi. Para peserta masih saling berbincang, berjabat tangan, lalu sebagian berfoto bersama. Mereka adalah para pegiat gerakan lintas iman Sobat Muda di Salatiga dan sekitarnya yang baru saja selesai belajar menyusun kurikulum pendidikan perdamaian untuk pemudamelalui sebuah workshop.

Selain tersusunnya kurikulum pendidikan perdamaian, kegiatan itudiharapkan bisa mendorong bangkitnya kesadaran para pemuda agar ikut berkiprah dalam menciptakan perdamaian sekaligus mendorong terbangunnya jejaring kader perdamaian di Indonesia. Workshop ini difasilitasi oleh Lembaga Perdamaian Lintas Agama dan Golongan (LPLAG) Surakarta bekerjasama dengan Lembaga Percik Salatiga, yang merupakan kelanjutan dari workshop tentang transformasi konflik yang diselenggarakan selama dua hari pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Zon Vanel, dosen di Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana dan Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, sebagai narasumber workshop mengatakan bahwa kurikulum perdamaian yang disusun ini disesuaikan dengan kebutuhan komunitas atau organisasi yang bersangkutan. Dia memberikan pengetahuan konseptual tentang kurikulum sampai dengan bagaimana praktek membuat sebuah kurikulum. Narasumber pun mendorong para peserta untuk membuat pelatihan yang sama di komunitasnya masing-masing.

Sebagian peserta mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertamanya mendapat pengetahuan tentang penyusunan sebuah kurikulum pendidikan. Sebagian peserta yang lain berpendapat bahwa kurikulum ini perlu disesuaikan dengan metode pendidikan perdamaian yang selama ini telah dilakukan komunitas yang bersangkutan. Dalam focus group discussion, salah satu kelompok yang terdiri dari Zein (IAIN Salatiga), Hanif (Jamaah Ahmadiyah), dan Nuraini (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia),misalnya membuat dan mempresentasikan draf kurikulum pendidikan yang menekankan pada pengetahuan arif lokal tentang toleransi dan perdamaian yang menggunakan metode live in (tinggal) bersama di dusun atau desa majemukyang selama ini telah dilakukan oleh Sobat Muda.

Kegiatan telah selesai, namun para peserta dan fasilitator berharap ada tindak lanjut yang bisa dilakukan bersama. Draf kurikulum yang telah disusun oleh para peserta akan dimatangkan kembali untuk menjadi kurikulum final guna mendukung kerja-kerja perdamaian. (Ima dan Ambar)

Jalan-jalan Yuk: Mengenal Bangunan Bersejarah Kota Salatiga

Wisata Sejarah Lintas Iman

Perjumpaan adalah cara merayakan perbedaan tanpa memecah belah komunitas kita. Semboyan ini mengiringi perjalanan menuju tiga destinasi bersejarah di Kota Salatiga : Rumah Khalwat Roncalli, Rumah Dinas Danrem, dan Klenteng Hok Tek Bio. Wisata sejarah lintas iman diikuti oleh remaja dari berbagai komunitas berbeda latar belakang yang berasal dari Kota Salatiga dan sekitarnya. Tujuan utama kegiatan ini adalah mengenalkan tempat-tempat bersejarah di Kota Salatiga. Selain itu, memfasilitasi perjumpaan anak-anak remaja yang memiliki latar belakang yang berbeda.  Agama, laki-laki, perempuan menjadi pembeda diantara mereka. Kegiatan ini juga diikuti oleh ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Melalui perjumpaan, anak-anak remaja peserta wisata sejarah lintas iman bisa merasakan keberagaman yang ada di sekililingnya. Pada akhirnya melalui perjumpaan dan merasakan keberagaman diharapkan mampu menumbuhkan sikap pada anak-anak remaja peserta wisata sejarah lintas iman untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2018 para pegiat lintas iman remaja menyelenggarakan wisata sejarah lintas iman. Remaja sebagai generasi penerus hendaknya mengetahui sejarah bangsanya. Salatiga, kota berhawa sejuk menyimpan banyak sejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tidak banyak orang tahu bahwa tiga bangunan bersejarah tersebut di atas menjadi saksi bisu tentang sejarah yang pernah terjadi di Kota Salatiga pada masa penjajahan Belanda. Dalam wisata sejarah lintas iman ini, peserta mengunjungi dan melihat langsung bangunan serta ruangan-ruangan dari masing-masing bangunan. Peserta juga berkesempatan mendengarkan langsung penjelasan tentang bangunan-bangunan bersejarah itu. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menambah pengetahuan mereka.

Rumah Khalwat Roncalli merupakan bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Diponegoro (dulunya Toentangscheweg). Bangunan itu dulunya dikenal dengan nama Istana Djoeng Eng, milik pengusaha kaya asal Taiwan bernama Kwik Djoen Eng. Ornamen-ornamen hias yang melekat pada dinding luar maupun dalam bangunan menonjolkan budaya Tionghoa. Sekitar tahun 1930-an istana itu disita bank karena krisis ekonomi besar yang mengakibatkan Kwik Djoen Eng gulung tikar. Tahun 1949 Yayasan FIC-milik komunitas Katolik kemudian membeli istana Djoen Eng. Istana Djoen Eng sekarang dikenal dengan nama Rumah Khalwat Roncalli (Institut Roncalli) dan digunakan sebagai tempat berkegiatan komunitas Katolik.

Rumah dinas Komandan Korem (Danrem) 073 Salatiga yang terletak di Jalan Diponegoro, dulunya adalah vila milik Oei Tiong Ham, seorang Raja Gula se-Asia Tenggara.  Oei Tiong Ham menguasai pasar gula di sebagian besar wilayah Asia Tenggara. Kala itu kepemilikan aset Oei Tiong Ham di Salatiga mencakup dari Mal Ramayana kini hingga sebagian besar wilayah Jalan Jenderal Sudirman Salatiga.  Kepemilikan aset ini berimplikasi pada pembayaran pajak yang besar di Salatiga. Pembayaran pajak yang terbilang besar dari Oei Tiong Ham telah berkontribusi dalam pembangunan fasilitas Salatiga kala itu. Vila yang kini menjadi rumah dinas Danrem  073 itu pernah ditinggali Soeharto (Presiden ke- 2 Indonesia) tahun 1951-1953.

Klenteng Hok Tek Bio yang terletak di Jalan Sukowati tak kalah pentingnya. Sebuah prasasti pada dinding klenteng menyebutkan renovasi bangunan dilakukan tahun 1872. Artinya bahwa bangunan klenteng Hok Tek Bio sudah ada sebelum dilakukan renovasi dan patut diduga komunitas Tionghoa telah ada di Salatiga sebelum dibangunnya klenteng tersebut.

Komunitas Tionghoa telah menjadi bagian dari sejarah Kota Salatiga. Pada masa Hindia Belanda Salatiga sebagai kota terindah indah di Jawa Tengah, berhawa sejuk dan terletak strategis. Para pebisnis Tionghoa yang kaya raya pada waktu itu kemudian memilih Salatiga sebagai tempat tinggalnya. Itulah bagian dari sejarah Kota Salatiga. Tentu saja masih terdapat bangunan-bangunan tua lainnya yang menjadi bagian sejarah Kota Salatiga.

Sebagian besar remaja yang ikut dalam wisata sejarah lintas iman menyatakan bahwa mereka baru pertama kali mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah tersebut. Pada umumnya mereka menyatakan senang mengikuti kegiatan ini. Isma, salah seorang peserta mengungkapkan, “Selama ini saya kurang senang dengan pelajaran sejarah, tapi dengan belajar secara langsung seperti tadi, sekarang menjadi senang dengan pelajaran sejarah.  Secara khusus lebih cinta sama Kota Salatiga dan semakin mengenal Kota Salatiga.” Sementara  Zahra menyatakan, “Bangga sebagai orang yang lahir di Kota Salatiga. Mengetahui bahwa pada masa penjajahan Belanda, Salatiga menjadi kota terindah di Jawa Tengah yang berhawa sejuk. Banyak orang-orang asing berlomba-lomba mendapatkan tanah di kota ini. Sehingga banyak bangunan megah dan beragam di kota ini. Berharap kota ini tetap terjaga sebagai kota sejuk dan tetap indah.” Khamidah juga mengungkapkan hal yang sama, “ Senang mengikuti kegiatan ini karena menjadi tahu ternyata orang-orang Tionghoa sangat berbakat. Bisa melihat jasa orang-orang Tionghoa pada masa lalu bagi Kota Salatiga.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa diantara mereka terdapat beberapa anak yang baru saja bergabung dengan kegiatan Sobat Remaja ini sehingga perasaan canggung dan malu masih mereka rasakan. Seperti yang diungkapkan oleh Khamidah, “Meski awalnya saya merasa malu bertemu dengan orang baru yang belum saya kenal, tapi  saya juga senang mengenal orang yang bermacam-macam agama, tetapi saya tidak membedakannya.”  Ungkapan senada juga disampaikan oleh Isma, “Dengan semakin bertemu banyak orang baru, maka akan lebih tahu bahwa karakter orang itu sangat bermacam-macam, tinggal bagaimana kita bersikap.” Demikian juga Enda mengungkapkan, “Senang bisa bercanda bareng dan belajar bareng. Memiliki pengalaman baru dari mereka.”

Mereka berharap kegiatan seperti ini bisa diselenggarakan kembali di waktu mendatang. Mengunjungi bangunan-bangunan lain di Kota Salatiga untuk menambah pengetahuan. Kegiatan ini membantu untuk mengenal Kota Salatiga. [Cicilia Dwi Wuryaningsih]

 

Sumber :

Abel Jatayu, Wisata Sejarah Lintas Iman