Category Archives: Berita

Sedulur Sikep dan Tantangan Menyikapi Perubahan Jaman

Komunitas Sedulur Sikep atau juga yang dikenal dengan nama komunitas Wong Samin terdapat di beberapa wilayah di Jawa Tengah. Salah satunya di Kabupaten Kudus. Terdorong keinginan untuk mengenal lebih dekat tentang komunitas ini, gerakan lintas iman Sobat menyelenggarakan sarasehan di tempat komunitas Sedulur Sikep. Para pegiat Sobat yang berasal dari beberapa simpul di Jawa Tengah dan Yogyakarta menghadiri sarasehan ini.

Sarasehan digelar selama dua hari 27-28 Agustus 2019 bertempat di rumah sesepuh komunitas Sedulur Sikep, Budi Santosa di  Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Terdapat sekitar 200-an warga Sedulur Sikep yang berdomisi di Kaliyoso dan Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Mereka hidup menyatu dengan anggota masyarakat lainnya. Hawa panas pada siang hari tak menyurutkan semangat untuk berdiskusi dan menyimak penuturan tentang Sedulur Sikep. Sejarah terbentuknya komunitas Sedulur Sikep dan tantangan menyikapi perubahan jaman tidak lepas dalam diskusi tersebut.

Budi Santosa, sesepuh Komunitas Sedulur Sikep menyampaikan berbagai hal yang berkaitan dengan komunitas Sedulur Sikep. Menurut sejarahnya Sedulur Sikep ini dirintis oleh Ki Samin Surosentiko. Komunitas Sedulur Sikep atau Wong Samin saat itu terbentuk untuk melawan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Komunitas ini menolak membayar pajak dan tidak bersedia menuruti peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Banyak diantara pengikut Surosentiko ini, rela kehilangan nyawa karena kegigihannya mempertahankan keputusannya. Hingga kini, tantangan-tantangan yang masih melingkupi antara lain menyangkut pendidikan dan pernikahan warga Sedulur Sikep. Budi Santosa menuturkan pengalaman anaknya di sekolah. Ketika di sekolah anaknya yang seorang penghayat ajaran Sikep menerima pelajaran agama yang bukan keyakinannya. Pengalaman tersebut juga dialami oleh siswa yang lain.

Hal senada disampaikan oleh Tedi Kholiludin dari eLSA – Semarang yang berkesempatan hadir pada sarasehan itu. Tedi Kholiludin yang selama beberapa tahun mendampingi komunitas Sedulur Sikep juga mengungkapkan tantangan dalam hal pendidikan dan pernikahan yang dihadapi oleh komunitas ini.  Karena pelayanan pelajaran penghayat belum tersedia di sekolah, maka beberapa siswa dari Sedulur Sikep menerima pelajaran agama yang bukan keyakinannya di sekolah. Dalam hal pernikahan, banyak pernikahan warga Sedulur Sikep yang belum dicatatkan di Dukcapil – Dinas Kependudukan dan  Pencatatan Sipil . Dampaknya adalah nama ayah tidak tertera dalam akta kelahiran anaknya. Hal ini dialami oleh Budi Santosa yang namanya tidak tertera sebagai ayah dalam akta kelahiran anak-anaknya. Namun seiring dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, sejak April 2019 pernikahan yang dilangsungkan secara adat Sedulur Sikep dinyatakan sah oleh negara dan bisa dicatatkan di Dukcapil.

Selain untuk mengenal lebih dekat komunitas Sedulur Sikep, sarasehan Sobat yang digelar selama dua hari itu juga menjadi sarana untuk memupuk persobatan dan menjalin persaudaraan antar anggota komunitas lintas iman. Dalam sarasehan ini  anggota simpul Sobat dan peserta sarasehan lainnya juga berkesempatan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam turut membangun kebersamaan tanpa sekat-sekat agama, kepercayaan, dan keyakinan. /cdw/

Mendahulukan Cara-cara Damai untuk Penyelesaian Masalah Lokal

Sekira pukul tiga sore pada 21 Agustus 2019, pendopo Kelurahan Sangkrah telah ditata rapi dengan kursi melingkar. Cuaca yang masih agak panas tidak menyurutkan niat sekitar 25 orang peserta yang terdiri dari pemerintah kelurahan, RW/RT, organisasi perempuan, pemuda, dan organisasi masyarakat sipil di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakartan datang ke pendopo.

Setelah doa dipanjatkan menurut agama dan keyakinan masing-masing, lagu Indonesia Raya pun dilantunkan bersama untuk memulai sarasehan tentang Merawat Kebhinnekaan di Kelurahan Sangkrah.

Lurah Sangkrah, Eka Budi Mulyana membuka sarasehan yang merupakan kerja bersama Pemerintah Kelurahan Sangkrah dan Lembaga Percik Salatiga. Dia mendorong setiap peserta mengungkapkan berbagai pengalamannya selama tinggal di Kelurahan Sangkrah dalam konteks kebhinnekaan.

“Dengan kemajuan jaman dan urbanisasi, telah terjadi perubahan di Sangkrah. Dahulu, wilayah tertentu di Sangkrah adalah wilayah ‘hitam’. Tetapi kini, dengan solidaritas yang tinggi dalam kemajemukan, Sangkrah sering disebut sebagai ‘Sanggarnya Kreatif dan Terarah’, bahkan pernah memenangkan lomba pemberdayaan masyarakat pada tahun 2006.” Ujar seorang warga yang telah tinggal di kelurahan ini selama 52 tahun.

Ada masa dimana cara kekerasan memang dipakai untuk menghadapi tantangan Kambtibmas di Kelurahan ini. Seorang warga menuturkan bahwa dulu sebagian warga Sangkrah marak mengkonsumsi minuman keras. Upaya untuk mengubah itu antara lain takmir sebuah masjid harus meminta kepada para laskar umat Islam untuk mengambil jalan kekerasan sehingga beberapa anak muda tidak mengkonsumsi minuman keras lagi.

Kini, ada kegairahan yang luar biasa dari masyarakat Kelurahan Sangkrah untuk menyelesaikan masalah-masalah lokal dengan cara damai. Lima tahun terakhir ini misalnya, cara damai dilakukan dengan melibatkan forum warga yang ada antara lain Forum Kerukunan Polisi dan Masyarakat (FKPM).

Seorang warga menuturkan Penanganan kasus sudah banyak yang dilakukan. Laskar dengan pemabuk memang menjadi intinya. Kami mengumpulkan mereka di Masjid Nur Sholeh. Laskar tidak punya hak menghakimi. Pemabuk juga sebaiknya bertobat. Sekarang yang mabuk sudah banyak yang berkurang.

Sarasehan ini antara lain menyimpulkan bahwa cara kekerasan dulu dilakukan karena dipandang cepat mengatasi persoalan, namun juga ada pihak yang menolak karena menimbulkan persoalan psikologis warga. Oleh sebab itu cara-cara damai sudah seharusnya diutamakan dalam penyelesaian masalah lokal di Kelurahan Sangkrah. (Amb)

Angkringan Kebhinekaan: Merekatkan Persaudaraan dalam Perbedaan

Sebelum adanya pemekaran, dua wilayah di Semanggi dan Mojo tergabung menjadi satu Kelurahan Semanggi. Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo merupakan wilayah dengan pemukiman padat penduduk. Cerita tentang perkelahian antar warga, pencurian, mabuk-mabukan, perjudian, serta aksi kekerasan kerap terdengar terjadi di wilayah ini. Sebagian warga juga tampak enggan berkomunikasi dengan pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir segala persoalan di atas mulai dapat diatasi. Saluran-saluran komunikasi mulai terbangun. Pihak-pihak mulai membuka diri dan mencari solusi bersama atas permasalahan yang dihadapi. Pertemuan warga menjadi sarana mengomunikasikan berbagai kepentingan dan mencari solusi suatu permasalahan secara bersama-sama.

Kelurahan Semanggi menyelenggarakan sarasehan bekerjasama dengan Yayasan Percik pada Selasa, 6 Agustus 2019. Sarasehan tentang “Merawat Kebinekaan di Kelurahan Semanggi dan Kelurahan Mojo” itu diselenggarakan di aula Kelurahan Semanggi. Sarasehan ini menjadi bentuk lain dari pertemuan warga untuk mempertemukan dan mengomunikasikan berbagai kepentingan. Pada sarasehan itu peserta saling berbagi pengalaman dan mengomunikasikan kepentingan mereka sebagai warga yang tinggal di wilayah tersebut.

Seorang yang pernah menjabat ketua Rukun Tetangga menyampaikan pengalamannya. Saat ia menjabat sebagai ketua Rukun Tetangga, ia mendapati warga yang suka mabuk-mabukan dan akhirnya berkelahi.

Sementara itu laskar sering mengambil tindakan jika menemukan orang yang sedang mabuk-mabukan. Sugiyanto, ketua Rukun Warga menyampaikan bahwa keberadaan laskar memang ditakuti oleh masyarakat. “Di wilayah kami memang keberadaan laskar ditakuti. Namun laskar bersinggungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kemaksiatan, seperti perjudian dan mabuk-mabukan. Jadi tidak bersinggungan dengan agama lain,“ katanya menanggapi persoalan mabuk-mabukan yang kerap terjadi ketika itu.

Di sisi yang lain peserta sarasehan juga mengungkapkan telah muncul inisiatif-insiatif warga untuk menciptakan kondisi kampung menjadi lebih baik. Kesenian hadroh menjadi ruang berekspresi bagi kaum muda di wilayah Losari.Semula ada yang menentang, lalu kami beri pengertian. Dangdutan saja boleh kenapa hadroh tidak boleh. Anak-anak muda yang semula kerjanya suka nongkrong-nongkrong, kami rangkul, kami ajak mereka belajar main hadroh,“ ungkap Yuli, pegiat kesenian di wilayah tersebut. Kelompok kesenian hadroh Losari ini pernah meraih kejuaraan dalam perlombaan di tingkat kecamatan maupun Kota Surakarta. Prestasi ini menciptakan wajah baru Losari yang semula dikenal dengan perkelahian warga dan perjudian.

Dalam persoalan penataan pemukiman penduduk di wilayah HP 16 rawan munculnya konflik.  Menghadapi situasi demikian, Lurah Sularso sebagai representasi pemerintah mampu membangun komunikasi dengan warga. Ketua Pokja HP 16 menuturkan ketika itu masyarakat siap melawan jika pemerintah tidak merespon baik terhadap aspirasi warga. Baru di era Lurah Sularso, warga merasakan memiliki lurah. Menurutnya, Sularso adalah sosok pemimpin yang memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan warga.Sularso mau menjalin komunikasi dengan warga. Persoalan yang muncul dalam penataan pemukiman warga di tanah pemerintah HP 16 bisa diselesaikan dengan baik,” ungkapnya atas peristiwa tersebut.

Hanya sekelompok kecil warga yang kurang memahami tentang kebiasaan dalam beribadah atau tata ibadah yang menjadikan sedikit gesekan. Namun secara umum relasi antar agama di wilayah Semanggi dan kini Mojo relatif baik. Teguh yang nasrani mengungkapkan bahwa keberadaan gereja GKAI bisa hidup berdampingan dengan masyarakat setempat. “Selama 32 tahun kami merasa bahwa gereja kami dijaga oleh saudara-saudara yang muslim,” katanya.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Irianto, seorang beragama Katolik yang menyatakan bahwa terdapat sebuah kapel milik Katolik sejak tahun 1997. Kegiatan di kapel selama ini bisa berjalan dengan baik.

Malam itu suasana di Kelurahan Semanggi tampak berbeda. Di salah satu sudut halaman terdapat angkringan dilengkapi kursi-kursi panjang. Pada angkringan itu telah tersedia aneka hidangan. Beberapa orang yang mulai berdatangan lalu mendekati angkringan itu. Mereka memesan dan menikmati hidangan yang tersaji. Sementara di dalam ruangan aula kelurahan terdengar alunan musik. Di antara mereka yang telah hadir menyumbangkan suaranya. Lantunan suara merdu mereka dengan iringan organ menyemarakan suasana sebelum acara sarasehan dimulai.

Sarasehan yang dikemas rileks dalam bentuk angkringan kebinekaan itu menjadi sarana mempertemukan warga dan tokoh masyarakat dengan berbagai latar belakang. Mereka yang hadir mewakili berbagai unsur seperti LPMK-Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan, ketua RW, tokoh perempuan, tokoh pemuda, tokoh agama, serta warga masyarakat lainnya. Mereka saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mengomunikasikan kepentingan. Sebuah pertemuan yang pada akhirnya turut merekatkan kembali persaudaraan dalam perbedaan yang melingkupinya.  /cdw/

Pentingnya Pengetahuan dalam Pengelolaan Kemajemukan di Aras Lokal

“Pengetahuan itu penting bagi masyarakat. Misalnya saja, ada salah satu kegiatan keagamaan dari kelompok agama tertentu yang dibubarkan oleh kelompok agama yang lain. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan warga akan kebiasaan atau tata ibadah dari kelompok yang lain. Akhirnya kami memberikan informasi kepada pihak yang membubarkan. Kami mohon dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk saling ‘ngangsu kawruh’ (saling mencari pengetahuan-red) dan kemudian disampaikan kepada para penganut agamanya masing-masing.”

Itulah tanggapan dari seorang ketua Rukun Warga (RW) di Kelurahan Joyosuran, sebagai salah satu peserta Forum Belajar Bersama “Strategi Pengelolaan Kemajemukan di Aras Lokal” yang diselenggarakan di Kantor Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta pada tanggal 21 Juli 2019 yang lalu.

Masih dalam suasana Idul Fitri 2019, forum atas kerja bersama Lembaga Percik Salatiga, Pemerintah Kelurahan Joyosuran, dan Pemerintah Kecamatan Pasar Kliwon ini juga menjadi ajang halal bi halal bagi para peserta untuk saling memaafkan.

Sekira 40 orang hadir yang terdiri dari unsur kepolisian, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan RW/RT, organisasi perempuan, pemuda, tokoh agama, dan Organisasi Masyarakat Sipil yang beraktivitas di kelurahan-kelurahan Joyosuran, Sangkrah, dan Semanggi.

Belajar bersama diawali dengan pancingan gagasan dari dua orang narasumber, yakni Sekrektaris Camat (Sekcam) Pasar Kliwon, Khoeroni dan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pasar Kliwon, AKP. Ariakta Gagah Nugraha.

Sekcam Pasar Kliwon memberikan informasi mengenai berbagai program Kecamatan Pasar Kliwon dalam upaya pengelolaan kemajemukan dengan berbagai strateginya, dari mengelola lingkungan secara bersama-sama melalui revitalisasi sungai sampai dengan menumbuhkan nasionalisme melalui lomba seperti cerdas cermat dan menyanyikan lagu kebangsaan. Sementara itu menyinggung tentang banjir informasi karena kemajuan teknologi, Sekcam mengajak untuk melihat informasi lebih  menyeluruh, “Permasalahan seringkali muncul dari informasi yang sepotong-potong. Kita sebaiknya telaah terlebih dahulu, kita dengar dan resapi. Jangan hanya masuk ke otak saja, namun perlu kita telaah dengan hati. Karena ada banyak yang tampaknya masuk akal tapi belum tentu benar.”

Hampir senada, salah satu poin yang disampaikan oleh Kapolsek Pasar Kliwon adalah “Rendahnya pendidikan atau pengetahuan di masyarakat bisa berdampak mudah masuknya paham yang radikal.” Sebagai contoh tindakan radikal yang pernah dilakukan oleh seorang warga Kelurahan Sangkrah yang menjadi pelaku bom di Mapolresta Surakarta. Menurut Kapolsek, ini adalah masalah bersama yang perlu mendapatkan perhatian masyarakat di Pasar Kliwon.

Setiap permasalahan berkaitan dengan kemajemukan perlu peran serta seluruh elemen masyarakat. Belajar bersama saling berbagi pengetahuan dan informasi faktual menjadi penting dalam menyelesaikan berbagai masalah di aras lokal. (Amb)