June 4, 2020

Merayakan Kemajemukan untuk Memperkuat Kebangsaan

Kemajemukan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Surakarta. Pada empat kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon-Surakarta, yaitu Mojo, Joyosuran, Semanggi, dan Sangkrah misalnya, kemajemukan itu hidup dalam warga masyarakatnya. Menyadari akan kemajemukan yang melingkupinya sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia yang patut disyukuri, pada akhirnya mendorong pihak-pihak turut mengambil bagian dalam merawatnya. Upaya merawat kemajemukan itu dipandang penting sebagai bagian dalam memperkuat semangat kebangsaan bagi warga di empat kelurahan tersebut. Hal inilah yang mendorong empat kelurahan menyelenggarakan Kirab Kebangsaan yang bertemakan “Merayakan Kemajemukan untuk Perdamaian”.

Kelurahan-kelurahan di Kecamatan Pasar Kliwon-Surakarta terdapat ragam organisasi keagamaan, budaya, dan etnis. Masyarakat dari beragam etnis (Jawa, Tionghoa, dan Arab) hidup berdampingan. Kehidupan  keagamaan dan keyakinan beserta organisasi keagamaan yang menyertainya pun juga sangat beragam. Berbeda dan beragam bukanlah halangan untuk hidup berdampingan secara damai, saling menghormati dan memberikan toleransi. Dalam keseharian warga masyarakat telah menghidupi kemajemukan itu melalui berbagai aktivitas. Beragam kesenian bernuansa tradisi lokal dan keagamaan terus dipelihara warga masyarakat. Dengan berbagai dinamika yang menyertai, aktivitas keagamaan dan keyakinan bisa berlangsung sebagaimana mestinya. Demikian pula guyub rukun masyarakat terus dijaga. Kecintaan warga masyarakat menjadi daya dorong mereka untuk terus memelihara dan mengembangkan tradisi dan budaya sebagai bagian dari kemajemukan.

Penyelenggaraan kirab kebangsaan menyiratkan kecintaan warga masyarakat yang menghargai kemajemukan sebagai bagian dari kekayaan bangsa Indonesia yang patut disyukuri. Pada kesempatan tersebut dibacakan ikrar kebangsaan yang intinya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keberagaman, toleransi tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan. Memperjuangkan perdamaian, menolak intoleransi dan radikalisme serta budaya kekerasan. Memperjuangkan hidup damai dan tenteram dalam bingkai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Wakil Walikota Surakarta, Achmad Purnomo, yang hadir dalam acara ini menyampaikan apresiasi atas terselenggarakanya kirab kebangsaan sebagai bukti bahwa warga masyarakat menghormati persatuan, kesatuan dan kebersamaan. Senada dengan itu Jarot Prakosa, ketua panitia dari unsur karang taruna dalam sambutannya menyampaikan bahwa keindahan akan persaudaraan, saling menghormati, dan toleransi tersaji melalui kirab kebangsaan.

Empat kelurahan, yaitu Mojo, Joyosuran, Semanggi, Sangkrah (Mojosemar) bekerjasama dengan Lembaga Percik-Salatiga menyelenggarakan kirab kebangsaan dengan melibatkan segala lapisan masyarakat. Kelompok perempuan, karang taruna, tokoh masyarakat, anggota masyarakat dengan dukungan aparat pemerintahan baik di tingkat kelurahan, Kecamatan Pasar Kliwon, dan Kota Surakarta mengambil bagian dalam berbagai peran demi terselenggaranya kirab kebangsaan. Sementara itu, keragaman budaya sebagai bagian kekayaan bangsa ditampilkan dalam bentuk kesenian tradisional seperti kelompok musik hadrah anak-anak, Solo Batik Carnival-Sangkrah, pakaian adat nusantara, topeng ireng, perahu rojomolo, sanggar conglo, Bergodo Joyosuran, serta Reog Singokuncoro. Berbagai organisasi kemasyarakatan setempat turut pula menyemarakan kirab kebangsaan. Demikian juga pasukan Garuda, paskibra dan pramuka yang melibatkan siswa siswi sekolah menjadi bagian dalam kirab kebangsaan ini.

Kirab kebangsaan yang diselenggarakan pada Minggu, 8 Desember 2019 berpusat di Sentra Industri Kecil Menengah-IKM Harmoni di Kelurahan Semanggi-Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Kegiatan ini diharapkan semakin menguatkan semangat kebangsaan warga masyarakat Mojosemar (Kelurahan-kelurahan Mojo, Joyosuran, Semanggi, dan Sangkrah) dan Kota Surakarta pada umumnya. Demikian juga mendukung warga masyarakat untuk terus mengembangkan praktik relasi kehidupan yang inklusif, meneguhkan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. [dwi cdw]