Perempuan Ditempatkan di Garis Depan Aksi Terorisme

SALATIGA, suaramerdeka.com – Semakin ke sini peran dan keterlibatan perempuan dalam aksi teror semakin kuat. Tubuh perempuan dimanfaatkan sebagai pengaman dan perempuan dinilai sangat strategis, sehingga ditempatkan di garis depan aksi terorisme.

Hal itu diungkapkan Dwi Rubiyanti Khalifah dari Working Group on Women and Countering Violent Extremism (WGWC), saat seminar membangun strategi dan kerja sama dalam advokasi kebijakan implementasi, rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstrimisme (RAN PE) di Yayasan Percik Salatiga, Rabu (31/3).

Menurutnya banyak perempuan jadi pengantin dalam kasus teror bom. Ini memunculkan narasi romantisme combatan perempuan yang dikemas sitematis. Secara tidak langsung menimbulkan kesan keren, berbaju hitam-hitam, membawa bom, senjata. ”Bagi sebagian perempuan ini keren,” ujarnya.

Rubi mengungkapkan pula keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme sebelumnya aktif lewat internet dan media sosial. Awalnya dulu jarang atau tidak diperbolehkan terlibat.

Namun mereka telah menjadi pelaku utama dalam kegiatan “jihad” virtual. Para perempuan ini sangat lihai dalam propaganda dan mobilisasi keuangan. Peran mereka selama ini juga berkelanjutan dan konsisten.

Melihat kondisi itu maka para pengambil kebijakan harus memahaminya dan melibatkan masyarakat dalam rangka penanggulangan radikalisme. Termasuk berbagi sumber daya dana dengan civil society, untuk bersama-sama penanggulangan aksi radikal dan terorisme.

Sementara itu, pembicara lainnya, Ahmad Nurwahid dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berharap kepedulian masyarakat harus makin tinggi terhadap isu radikalisme ini.

Pelibatan civil society sangat dibutuhkan untuk mencegah aksi terorisme dan mencegah radikalisme. Aksi radikalisme bila dibiarkan akan memperlemah ketahanan bangsa Indonesia.

Gerakan ini telah memanipulasi agama, namun telah mengabaikan akhlak dan budi pekerti. Nurwahid menjelaskan pula bila akar masalah terorisme adalah ideologi yang menyimpang.

Dia mengingatkan pula bila kemiskinan dan ketidakadilan hanya faktor pemantik (bukan faktor utama) aksi terorisme.

Di tempat yang sama, Singgih Nugroho, peneliti Percik mengungkapkan, dalam kondisi pandemi Covid-19, ternyata aksi teror masih tetap berlangsung.

Di Jawa Tengah tercatat sejumlah daerah munculnya paham radikalisme dan intoleransi. Bahkan ada beberapa daerah basis latihan teroris. Sejak beberapa tahun lalu sejumlah orang terduga teroris ditangkap di Jawa Tengah.

Atas dasar tersebut perlu peran dan kerja sama untuk membangun perdamaian dan mencegah aksi radikal, serta intoleransi di Jawa Tengah dan Indonesia.

Dalam seminar daring tersebut hadir Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang memaparkan rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstrimisme di Jawa Tengah.

Sumber: https://www.suaramerdeka.com/regional/semarang/259242-perempuan-ditempatkan-di-garis-depan-aksi-terorisme?page=3

  • Rabu, 31 Maret 2021 | 23:56 WIB
  • Penulis: Surya Yuli P