Pak Sam: Aktor yang Memilih Bekerja dibalik Layar

Rabu pagi (27/1-2021) WAG Keluarga Besar Percik Salatiga memberi kabar meninggalnya pimpinan, guru dan sahabat kami di Yayasan Percik, I Made Samiana, pada pukul 05.55 WIB, dalam usia 72 thn. Pagi tadi (Kamis, 28/1-2021) mulai jam 10 telah diselenggarakan prosesi pemakaman di  rumah duka di Kampung Tegalombo RT 07 RW 03 Blotongan, dan diantar ke Makam Blotongan, Sidorejo, Salatiga. Dia meninggalkan satu isteri yang dinikaninya tahun 1979, yaitu Retnaningsih, dan dua orang anak, yaitu Ruri Prameswari serta Simon Resana Junior.

IMS adalah nama inisialnya di PERCIK. Dalam keseharian, kami memanggilnya Pak Sam. Dia  adalah salah satu tokoh penting bagi perkembangan sejumlah lembaga di Salatiga antara lain UKSW dan Yayasan PERCIK. Pria kelahiran Desa Blimbingsari, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, lahir dari pasangan I Ketut Candri dan Ni Made Puri pada tangggal 22 April tahun 1948. Usai menempuh pendidikan jenjang SD sd SMA di Blimbingsari, dia merantau ke Jawa untuk belajar di Fakultas Hukum UKSW Salatiga di tahun 1969 dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1976.

Tanah Jawa telah memikat hatinya. Di tanah rantau ini dia memperoleh tambatan hati seorang perempuan asal Magelang, adik kelasnya di Fakultas Ekonomi UKSW yang memberinya dua anak. Selain itu, sejak tahun 1978 hingga tahun 1993 dia berkarir di almamaternya. Karirnya di mulai sebagai peneliti di LPIS (Lembaga Penelitian ilmu-ilmu Sosial), menjadi pengajar di Fakulas Hukum, lalu menjadi birokrat sebagai Dekan FH dan puncak karirnya adalah Pembantu Rektor III bagian kemahasiswaan UKSW Salatiga (kurun tahun 1988-1993).

Dalam kemelut internal UKSW dia turut dalam rombongan dosen yang keluar dan lantas menjadi bagian tokoh pendiri Yayasan PERCIK di tahun 1996. Dia menjadi Wakil Direktur PERCIK sejak tahun 1998-2012. Selanjutnya sejak tahun 2013-2020 menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan PERCIK. Di tengah kesibukannya dia juga terlibat di sejumlah organisasi lain berbasis gereja seperti LP3K dan Dana Pensiun Sekolah Kristen (DPSK). Beliau menjabat sebagai Dirut DPSK selama tahun 2008-2015.

Sebagai akademisi dan birokrat kampus, dia memang tidak sepopuler seperti sejumlah dosen lain yang kerap menulis di media massa. Meski demikian, bagi komunitas kampus dia dikenal sebagai sosok yangl humble, senang guyon, dan dekat dengan para mahasiswanya. Lebih dari itu, dia juga punya nyali besar untuk melawan sistem politik kala itu. Sebagai PR III, dia kerap dipanggil otoritas keamanan ditingkat Provinsi Jawa Tengah maupun Kota Salatiga saat aktivis mahasiswa UKSW mendapatkan tekanan dalam menyuarakan aspirasinya. Dalam satu kesempatan, dia pernah menghadiri pertemuan PR III Universitas se-Jawa Tengah dengan Mayor Jenderal Wismoyo Arismundar, Pangdam IV/Diponegoro (1988-1990). Di forum, nama UKSW disebut secara khusus karena ada dosen yang kritis dan  aktivis mahasiswanya yang kerap berdemonstrasi. Dia gowes saja mendengar pernyataan tersebut.

Pada masa itu nyaris sulit mendapatkan pimpinan di banyak kampus yang berani mengambil resiko pasang badan dengan kekuasaan. Iklim akademik di UKSW kala itu dikenal melawan arus. Ada banyak dosen kritis di UKSW seperti Arief Budiman, Ariel Heryanto, George Junus Aditjondro, TH Sumartana, Pradjarta Ds, Liek Wilardjo, Nico L Kana, dll. Cerita ini antara lain telah disampaikan oleh sebagian mahasiswanya seperti mas Eri Sutrisno dan Mas Irawan Saptono di FB nya. Puncak nyali itu adalah keputusannya keluar dari zona nyaman untuk mendirikan Yayasan PERCIK.

Perkembangan PERCIK di masa awal penuh dengan ketidakpastian. Bersama dengan koleganya mendirikan CV Pelangi dengan usaha jual beli sembako. Tak jarang dia turun langsung angkat junjung dan mengirimkan barang dagangannya. Bermain kartu bersama dengan koleganya merupakan bagian hobi untuk membelanjakan waktu di tengah ketidakpastian itu. Kisah perjalanan Percik antara lain bisa dibaca dalam link ini https://percik.or.id/…/01/surga-kecil-di-kampoeng-percik/ dan https://www.mail-archive.com/forum-pembaca…/msg20592.html

Ketika Percik mulai menemukan jalannya di tahun  1999, dia menempati posisi dan peran penting dalam menjalankan roda organisasi ini. Sebagai Wadir, dia menjadi pasangan sempurna Pak Pradjarta sebagai Direktur, untuk merumuskan dan eksekusi kebijakan Percik dalam mewujudkan visi dan misinya. Bila Pak Pradjarta bertugas untuk komunikasi dengan jaringan di luar, maka Pak Sam akan konsentrasi di dalam untuk memback up kebijakan operasional termasuk man powernya. Pembagian kerja demikian telah berkontribusi penting bagi perkembangan PERCIK hingga kepulangannya.

Semisal dalam penyelenggaraan Seminar Internasional Dinamika Politik Lokal yang berjalan hingga 14 putaran, meski seperti tidak terlihat tapi perannya sungguh-sungguh sangat vital. Dia mengawal Tim OC dan SC, sehingga acara itu berjalan dengan sukses. Banyak prosiding hasil seminar itu yang telah dipublikasikan atas peran tangan dinginnya. Contohnya antara lain bisa dilihat dalam link seperti https://opac.perpusnas.go.id/ResultListOpac.aspx?pDataItem=I%20Made%20Samiana&pType=Author&pLembarkerja=-1&pPilihan=Author

https://library.ui.ac.id/detail?id=20213709&lokasi=lokal

Lebih dari itu, tak jarang dia juga menjalankan fungsi sebagai orang tua dari staf PERCIK yang sebagian besar masih muda usia, termasuk urusan yang bersifat pribadi. Masing-masing staf memiliki pengalaman yang khas. Saya pribadi baru mengenalnya di tahun 1997. Kala itu saya masih kuliah di IAIN Salatiga diajak kawan Dimyati ke rumahnya untuk mengajukan proposal kegiatan. Setibanya di ruang tamu, tanpa basa-basi dia bertanya langsung keperluan pokoknya. Surat kami tidak dibacanya. Setelah sebisanya kami menyampaikan tujuan kedatangan, dia pun mengabulkan permintaan kami. Di tahun 2000, saya melamar kerja di Percik. Dia yang meminta dua orang memastikan saya layak diterima. Pun saat saya harus menikah dan membangun rumah, beliau merupakan orang yang punya peran penting dalam kehidupan kami.

Semenjak dia sakit stroke ringan sekitar lima tahun silam, kehadirannya di Kampoeng Percik sudah jauh berkurang. Komunikasi hanya dilakukan via telepon atau WA. Dalam kondisi ini, saban natal saya masih menyempatkan waktu untuk silaturahmi ke rumahnya. Perkecualian di tahun 2020 karena ada pandemi covid 19. Beberapa minggu ini kami tengah mendiskusikan rencana perayaan HUT PERCIK ke 25 tahun di tanggal 1 Februari 2021. Sedianya akan ada rencana pemberian penghargaan bagi para perintis PERCIK, termasuk beliau. Skema ini masih berjalan normal hingga kami mendengar kabar duka ini. Berita duka ini membuat perayaan akan tetap memberinya penghargaan, dalam bentuk doa bersama.

Selamat jalan Pak Sam, selamat beristirahat dengan tenang dalam keabadian dan bersua dengan karibmu Pak Arief Budiman dan Pak Budi Lazarusli.

Kampoeng PERCIK Salatiga, 28 Januari 2021.

Tentang Penulis

Kamu mungkin juga mencari ini