Sinergi Akademisi dan Aktivis: PERCIK dan FUADAH UIN Salatiga Jalin Kerja Sama Pengembangan Jurnal Renai

SALATIGA – Lembaga Percik kembali memperkuat jejaring akademiknya melalui penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga pada Jumat, 8 Mei 2026.

Bertempat di Kampus 2 UIN Salatiga, pertemuan ini menjadi momentum penting bagi revitalisasi Renai, Research and Advocacy Journal in Social Sciences and Humanities, yang dikelola oleh Percik sebagai wadah dialektika antara pemikiran kritis akademisi dan pengalaman praktis para aktivis.

Menjembatani Teori dan Aksi

Direktur Lembaga Percik, Haryani Saptaningtyas (Yani), menekankan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan dan menjaga kualitas Renai sebagai ruang dialog bagi para aktivis yang selama ini sering terbentur oleh rigiditas penulisan akademik. Melalui Renai, diharapkan ada titik temu di mana wacana akademik menjadi lebih operasional dan relevan dengan isu-isu sosial demokrasi serta lingkungan yang selama ini dikelola oleh Percik.

“Kami ingin menghidupkan kembali Renai sebagai investasi jangka panjang untuk kemandirian lembaga, sekaligus menjaga idealisme di tengah arus komersialisasi publikasi ilmiah,” ujar Yani dalam sambutannya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Dekan FUADAH UIN Salatiga, Prof. Supardi, menyambut baik kolaborasi ini sebagai kelanjutan dari hubungan sejarah panjang antara kedua institusi. Prof. Benny Ridwan, Wakil Rektor I, menyebutkan bahwa selama kurang lebih dua dekade, Percik dan UIN Salatiga telah menjalin kerjasama untuk membangun dan memperkuat relasi antar iman melalui berbagai program, seperti Wacana Lintas Iman, Sobat Muda, Internship, dan Uniting through Faith Australia.

Pihak fakultas berkomitmen untuk saling berbagi sumber daya, mulai dari pertukaran penulis, editor, hingga reviewer guna meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal, baik di Renai maupun jurnal internal fakultas seperti Milati dan Islah.

Selain pengembangan jurnal, poin-poin kerja sama yang disepakati juga mencakup penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, termasuk kolaborasi dalam penelitian dan pengabdian masyarakat yang berdampak langsung ke publik, program MBKM melalui praktik kerja lapang khususnya bagi mahasiswa yang tertarik dengan isu sosial-humaniora, dan menyediakan wadah publikasi bagi mahasiswa tingkat akhir sesuai dengan ketentuan editorial yang berlaku.

Menuju Standar Internasional

Dalam diskusi teknis, Managing Editor Jurnal Milati, Farid Hasan, melihat potensi Renai untuk menembus indeksasi internasional karena keunikan substansinya yang menggabungkan perspektif aktivis dan akademisi. Senada dengan hal tersebut, pengelolaan jurnal ke depan diharapkan tetap mengedepankan kualitas substansi (“kapal perang”) daripada sekadar mengejar kuantitas kargo publikasi (“kapal dagang”).

Acara ditutup dengan penandatanganan dokumen kerja sama secara simbolis dan komitmen kedua belah pihak untuk segera menyusun agenda kegiatan konkret dalam waktu dekat guna memastikan keberlanjutan dampak dari kemitraan ini.

Tentang Penulis

Berita lainnya